Searching...

Siapa yang lahir lebih dahulu? dan Siapa Yang (Sebenarnya) "Dikurbankan" Nabi Ibrahim?


Artikel saya berikut ini merupakan tanggapan maupun jawaban terhadap salah satu artikel Sdr. Abd Moqsith Ghazali berjudul : Ismail atau Ishak? sebagaimana yang dimuat dalam dalam situs Jaringan Islam Liberal http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=978.
Tanggapan ini aslinya dikirim tanggal 20 April 2006, ditujukan pada milis diskusi MyQuran dan Eramuslim (eramuslim@yahoogroups.commyquran@googlegroups.com, myquran@yahoogroups.com) serta dengan tembusan (Carbon Copy) alamat email Saudara Ulil Abshar Abdallah (ulil99@yahoo.com) dan Redaksi Islam Liberal (redaksi@islamlib.com).
Penanggap : Armansyah, Moderator Milis_Iqra@googlegroups.com, Praktisi IT dan Penulis Buku
—————————————–
Sdr. Abd Moqsith Ghazali menulis :
Ismail atau Ishak ?
Seluruh kitab suci yang berada dalam rumpun tradisi abrahamik mengisahkan peristiwa penyembelihan Ibrahim terhadap puteranya. Karena itu, umat Islam, kristiani, dan kaum Yahudi mengimani bahwa penyembelihan itu bukan mitos yang perlu dijebol, tapi fakta yang harus diimani. Begitulah. Hanya para ulama Islam berbeda pandangan tentang siapa yang hendak disembelih di antara putera-putera Ibrahim. Ada yang menyebut Ismail, anak Ibrahim dari hasil perkawinannya dengan Hajar (Perjanjian Lama [PL] menyebutnya Hagar), isteri kedua.
Dan ada pula yang menyatakan Ishak, anak Ibrahim dari hasil perkawinannya dengan Sarah (PL menyebutnya Sarai atau Sara), isteri pertama. Perlu diketahui bahwa Ismail lebih tua dari Ishak. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Qur`an al-Karim (Juz IV hlm. 16) menjelaskan bahwa Ismail lahir saat Ibrahim berumur 86 tahun. Sementara Ishak lahir ketika Ibrahim berumur 99 tahun–menurut PL 100 tahun.
Tanggapan saya :
Apa yang anda sampaikan diatas memang benar, dari sisi usia, jelas Ismail as memang lebih tua daripada Ishaq namun alangkah lebih bijaknya apabila kita memperlihatkan juga dalil-dalilnya baik itu dari al-Qur’an maupun Perjanjian Lama agar lebih jelas dan bisa dipahami oleh yang lainnya terutama masyarakat awam :
Dari Surah Ash Shaffat (37) ayat 99 sampai dengan ayat 113 :
99 Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.
100. Wahai Tuhanku, anugerahilah aku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh;
101. Maka Kami gembirakan dia dengan (kelahiran) seorang anak yang amat sabar.
102. Maka tatkala anak itu telah sampai pada usia dapat membantu bapaknya, berkatalah Ibrahim : ‘Wahai anakku sayang, sesungguhnya aku melihat didalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Untuk itu bagaimanakah pendapatmu ?’ Anaknya menjawab: ‘Hai Bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapati aku termasuk golongan orang-orang yang sabar’.
103. Maka tatkala keduanya (bapak dan anak) telah menyerahkan diri (kepada Allah) dan Ibrahim telah merebahkan anaknya diatas pipinya (ditempat penyembelihan dan hampir menyembelihnya).
104. Maka Kami panggillah dia, ‘Wahai Ibrahim’ (Janganlah engkau lanjutkan perbuatan itu.)  
105. Sungguh, engkau telah membenarkan (melaksanakan perintah-Ku dalam) mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
106. “Sesungguhnya (perintah penyembelihan) ini benar-benar suatu ujian yang nyata,
107. Dan Kami tebus sembelihan itu dengan sembelihan yang agung,
108. dan Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.
109. Yaitu, Kesejahteraan yang senantiasa dilimpahkan atas Ibrahim.”
110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,
111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang saleh,
113. Dan Kami limpahkan keberkatan atasnya (Ismail) dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucu mereka berdua, ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.”
Dari pemaparan ayat-ayat diatas, maka jelas bahwa al-Qur’an menggambarkan Ismail lahir lebih dahulu daripada Ishaq dan dari keduanya ini kelak akan lahir dua komunitas atau bangsa yang masing-masing menjalani hidupnya dengan dua sisi, yaitu baik dan jahat. Hemat saya ini hal yang alamiah saja sebagai sifat kefitrahan yang ada pada diri setiap manusia.
Perjanjian Lama sendiri menyebutkan bahwa putera tertua Ibrahim adalah Ismail :
Ini dimulai dari ayat ke-2 dan 3 dari Kitab Kejadian pasal 16 dimana Sarah sebagai istri pertama dari Ibrahim telah memberikan persetujuan kepada suaminya untuk menikahi Hajar budaknya sendiri.
Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. (Kejadian 16:2-3)
Dari Hajar (Hagar) ini lahirlah putra pertama Ibrahim yang bernama Ismail disaat usia Ibrahim kala itu 86 tahun.
Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya. (Kejadian 16:15-16)
Kisah ini bersesuaian dengan al-Qur’an pada surah 37 ayat 101, dan Kitab Kejadian pada pasal 21 ayat 5 menceritakan bahwa Ibrahim juga akhirnya mendapatkan keturunan dari Sarah, yaitu Ishak, dimana pada kala itu usia Ibrahim sudah mencapai 100 tahun.
Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. (Kejadian 21:5)
Jadi beda antara usia Ismail dan Ishak adalah 14 tahun.
Suatu perbedaan usia yang cukup jauh.

Sdr. Abd Moqsith Ghazali menulis :
Al-Qurthubiy dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an (Jilid VIII, hlm. 87) mengemukakan perihal perbedaan pandangan itu. Ada yang menyatakan bahwa yang diperintahkan untuk dikurbankan adalah Ismail. Pendapat ini dikemukakan oleh sejumlah sahabat Nabi dan tabi’in, seperti Abu Hurairah, Abu Thufail, Amir bin Watsilah, Sa’id ibn al-Musayyab, Yusuf bin Mihran, Rabi’ bin Anas, dan Muhammad ibn Ka’b al-Quradhiy. Pendapat ini konon didasarkan pada sebuah data historis yang menjelaskan bahwa penyembelihan tersebut berlangsung di Mekah (dahulu bernama Bakkah), sehingga yang hendak disembelih tersebut pasti Ismail, karena Ishak sepanjang hidupnya tidak pernah sampai ke sana. Mereka mengajukan bukti tambahan. Tanduk hewan kurban, pengganti Ismail, di gantung di Ka’bah. Sekiranya Ishak yang mau disembelih, maka tanduk itu kiranya tak digantung di Ka’bah, mungkin di tempat lain seperti Baytul Maqdis. Lepas dari argumen yang disodorkannya, terang bahwa pendapat pertama ini yang paling banyak dipercaya.
Sementara yang lain berpendapat bahwa anak yang diminta untuk disembelih, tidak lain, adalah Ishak bin Ibrahim. Pendapat ini diikuti oleh sejumlah sahabat dan tabiin. Dari kalangan sahabat tercatat nama-nama seperti Abdullah ibn Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Umar bin Khaththab, Jabir, Abdullah bin Umar, dan Ali bin Abi Thalib. Dari kalangan tabi’in yang berpendapat demikian di antaranya, Alqamah, Sya’biy, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ka’ab al-Ahbar, Qatadah, Masruq, Ikrimah, Qasim bin Abi Bazzah, Atha`, Abdurrahman bin Sabith, al-Zuhry, al-Sadiy, Abdullah bin Abi al-Hudzail, dan Malik bin Anas. Pendapat ini bukan hanya didasarkan pada hadits, tapi juga asumsi kesejarahan. Kelompok kedua ini mengakui bahwa tanduk domba yang disembelih itu digantung di Ka’bah, tapi–menurut mereka–itu dibawa Ibrahim dari negeri Kan’an, tempat tingal Ishak.
Sayangngnya, sekalipun pendapat kedua ini memiliki argumentasi yang kuat, tetap saja ia kalah populer dengan pendapat pertama. Jangan-jangan, pendapat yang kedua ini tertolak hanya karena ia didukung atau (malah) merujuk pada Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Lama disebut bahwa Ishak lah yang akan dikurbankan, dan bukan Ismail. Tuhan berfirman kepada Ibrahim, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu” (Kejadian, 22: 2]. Pada sumber inilah, seluruh umat Yahudi dan Nashrani mengacu, sehingga tak terlalu tampak perselisihan pendapat di antara mereka.
Tanggapan saya :
Pada ayat al-Qur’an surah Ash Shaffat ayat 102, disebutkan bahwa tatkala usia anak yang dilahirkan pertama tersebut, dalam hal ini adalah Ismail sudah mencapai usia yang cukup untuk mengerti, maka Allah mengadakan ujian bagi Ibrahim antara kecintaannya terhadap Allah dan kecintaannya terhadap anak yang selama ini sudah dia nanti-nantikan. Kisah ini jika kita kembalikan pada kitab Kejadian, sangat bersesuaian, dimana pada usia Ismail yang sudah lebih dari 10 tahun itu, beliau sudah cukup mengerti untuk berpikir dan tengah meranjak menuju kepada fase kekedewasan. Nabi Ibrahim yang mendapatkan perintah dari Allah itu, melakukan dialog tukar pikiran dengan putranya mengenai pengorbanan yang diminta oleh Allah terhadap diri anaknya ini. Dan kisah yang ini sama sekali bertentangan dengan kisah Kitab Kejadian yang menyebutkan Ibrahim telah membohongi putranya.
Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.(Kejadian 22:2)
Dari sini kita lihat sudah, bahwa Kitab Kejadian 22:2 sudah mengalami distorsi dengan penyebutan anak tunggal itu adalah Ishak (Isaac).
Pada kitab Kejadian pasal 16 ayat 16 yang sudah kita bahas sebelumnya diterangkan pada waktu Hagar memperanakkan Ismail bagi Abram, ketika itu umur Ibrahim 86 tahun. Pada kitab kejadian 21:5 disebutkan pada waktu Ishak lahir maka umur Ibrahim 100 tahun. Berdasarkan kedua ayat itu, maka anak Ibrahim yang lahir lebih dahulu ialah Ismail. Jika kitab Kejadian pasal 22 ayat 2 menerangkan bahwa firman Tuhan kepada Ibrahim untuk mengorbankan “anak tunggal”, jelas pada waktu itu anak Ibrahim baru satu orang. Adapun anak yang baru seorang ini sudah tentu anak yang lahir pertama atau yang lahir lebih dahulu. Dan anak Ibrahim yang lahir pertama ini ialah Ismail. Jadi kitab Kejadian pasal 22 ayat 2 yang menyebutkan “anak tunggal” itu Ishak, jelas merupakan sisipan atau penggantian yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Apabila pada kitab Kejadian pasal 16 ayat 16 dan kitab Kejadian pasal 21 ayat 5 anak Ibrahim pada waktu itu sudah dua orang, yaitu Ismail dan Ishak lalu mengapa pada kitab Kejadian pasal 22 ayat 2 disebutkan “anak tunggal” ?
Yang berarti bahwa anak Ibrahim baru satu orang, lalu kemana anak yang satunya lagi ? Padahal kedua anak tersebut masih sama-sama hidup !
Jadi seharusnya ayat yang menerangkan kelahiran Ishaq itu letaknya sesudah ayat pengorbanan, sehingga setelah ayat pengorbanan lalu diikuti oleh ayat kelahiran Ishak. Inilah yang disebut dengan “tahrif” oleh al-Qur’an, yaitu mengubah letak ayat dari tempatnya yang asli ketempat lain sebagaimana yang disitir oleh Surah An Nisa’ ayat 46 :
“Diantara orang-orang Yahudi itu, mereka mengubah perkataan dari tempatnya …”
Dengan begitu semakin jelas saja bahwa Perjanjian Lama memang mengandung tahrif (pengubahan, penambahan, pengurangan dan sebagainya), dan jelas pula bahwa kitab yang sudah diubah-ubah itu tidak dapat dikatakan otentik dari Tuhan melainkan merupakan kitab yang terdistorsi oleh ulah tangan-tangan manusia. Bahkan umat Kristen Protestan dengan reformasi “Sola Scripturanya” telah terang-terangan menolak tujuh kitab dalam yang ada didalam Bible dengan dasar bahwa ketujuhnya adalah kitab-kitab yang palsu . Lebih ekstrim lagi, sekte “kesaksian Yehovah” seperti yang dikutip oleh Kristolog Ahmad Deedat dari majalah Awake 08 September 1957 secara transparan menyatakan bahwa didalam Bible sekarang terdapat 50.000 kesalahan atau manipulasi .
Setelah ternyata Ibrahim lebih mengutamakan kecintaan dan kepatuhannya kepada Allah, maka Allah melimpahkan rahmat-Nya yang sangat besar kepada Ibrahim juga Allah telah meluluskan doa Ibrahim sebelumnya agar memperoleh anak yang saleh, yaitu putra tunggalnya, Ismail.
Dalam beberapa diskusi saya dengan umat Kristen, mereka berargumen bahwa penyebutan Ishak sebagai anak tunggal Ibrahim tidak lain karena Ismail terlahir dari budak dan merupakan anak tidak sah ….. menurut saya pendapat ini konyol dan tidak beralasan … sebab Kitab Kejadian 16:3 secara jelas menyebutkan bahwa Hagar sebelum ia melahirkan Ismail terlebih dahulu ia dijadikan istri oleh Ibrahim yang artinya itu adalah sah menurut hukum, apalagi ini Tuhan sendiri yang memberkatinya.
Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, –yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan–,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.  (Kejadian 16:3)
Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. (Kejadian 17:20)
Adapula yang membantahnya dengan merujuk kitab Kejadian pasal 21 ayat 12 bahwa yang dimaksud dengan keturunan Ibrahim adalah yang berasal dari benih Sarah :
Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. (Kejadian 21:12)
Tetapi pernyataan ini tertolak sendiri dengan ayat berikutnya yaitu kitab Kejadian pasal 21 ayat 13
Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu. (Kejadian 21:13)
Sehingga yang dimaksud oleh ayat dikitab Kejadian pasal 21 ayat 13 bukan soal “Ishak adalah anak asli keturunan Ibrahim dan menjadi anak tunggalnya” namun lebih pada masalah warisan Ibrahim sebagaimana isi dari ayat dikitab Kejadian pasal 21 ayat 10.
Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (Kejadian 21:9-10)
Jikapun argumentasi yang diberikan untuk tetap membenarkan penyebutan Ishak sebagai anak sulung sehingga dialah yang menjadi putera yang dikorbankan adalah dengan alasan Ismail terlahir dari Hagar yang sebenarnya tidak dicintai oleh Ibrahim dan menikahinya hanya karena ketiadaan keturunan maka ini akan bertentangan dengan pernyataan Kitab Ulangan pasal 21:15-17 :
Apabila seorang mempunyai dua orang isteri, yang seorang dicintai dan yang lain tidak dicintainya, dan mereka melahirkan anak-anak lelaki baginya, baik isteri yang dicintai maupun isteri yang tidak dicintai, dan anak sulung adalah dari isteri yang tidak dicintai maka pada waktu ia membagi warisan harta kepunyaannya kepada anak-anaknya itu, tidaklah boleh ia memberikan bagian anak sulung kepada anak dari isteri yang dicintai merugikan anak dari isteri yang tidak dicintai, yang adalah anak sulung. Tetapi ia harus mengakui anak yang sulung, anak dari isteri yang tidak dicintai itu, dengan memberikan kepadanya dua bagian dari segala kepunyaannya, sebab dialah kegagahannya yang pertama-tama: dialah yang empunya hak kesulungan. (Ulangan 21:15-17)
Sdr. Abd Moqsith Ghazali menulis :
Berbeda dengan Perjanjian Lama, Alquran tidak menuturkan dengan tegas tentang siapa yang hendak disembelih Ibrahim tersebut. Dari sinilah kiranya perbedaan pendapat itu bermula. Mungkin ada yang meng-copy PL bahwa Ishak lah yang hendak disembelih. Ada yang menyangkal bahwa yang mau disembelih itu Ismail, bukan Ishak. Anehnya, hadits yang menjelaskan hal ini pun cukup beragam. Suatu waktu Nabi menyebut Ismail. Kala yang lain berkata Ishaq.
Tanggapan saya :
Dari analisa kita panjang lebar diatas tadi, kiranya jelas sudah bahwa putera Ibrahim yang dikorbankan adalah Ismail dan bukan Ishak, adapun mengenai perbedaan hadis yang bisa dijumpai mengenai permasalahan ini rasanya sebagai orang yang berpendidikan sangat jelas bagaimana harus bersikap. Bahwa tidak mungkin ada dua pernyataan berbeda tentang satu hal yang sama, jika kasus seperti ini ditemukan maka satu diantaranya pasti benar dan yang lain salah atau dua-duanya pasti salah sebab tidak mungkin dua-duanya benar !
Maka dari itu kita bisa dengan tegas untuk menolak otorisasi hadis yang menyebutkan bahwa putera yang dikorbankan oleh Ibrahim as adalah Ishaq sesuai dengan bukti-bukti yang kita dapatkan. Disisi lain, tidak mungkin kalimat yang salah ataupun plin-plan keluar dari mulut seorang Nabi seperti Muhammad, olehnya saya pribadi tidak akan ragu membuang hadis yang demikian itu siapapun perawinya dan dari jalur  sahabat manapun sanadnya.
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS AL-Israa (17) :36)
Sdr. Abd Moqsith Ghazali menulis :
Pada hemat saya, ini merupakan bukti betapa tidak mudahnya melakukan verifikasi terhadap sejumlah peristiwa yang terjadi pada zaman lampau. Sejumlah kisah yang disajikan Alquran tak sepenuhnya bisa dan boleh di cek secara ilmiah, menyangkut akurasi dan validitas datanya. Sebab, terlalu banyak orang yang berkeberatan jika Alquran diperlakukan secara demikian.
Tanggapan saya :
al-Qur’an itu diturunkan sebagai kitab yang tidak hanya berisi peraturan dan larangan, namun juga berisikan pelajaran dari kisah-kisah orang-orang terdahulu, ia juga berisi ayat-ayat yang bersifat muhkamat dan mutasyabihat yang masih sangat layak untuk dikaji secara proporsional dan ilmiah.
Dia-lah yang menurunkan Kitab kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an, dan yang lain mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah /perselisihan/ dan untuk mencari-cari pengertiannya, padahal tidak ada yang mengetahui pengertiannya melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya. Katakanlah:”Kami beriman kepada yang semua ayat-ayatnya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang yang mau memikirkan.” (QS Ali Imron (3) : 7)
Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS AN-Nuur (24) :34)
Jika menurut anda al-Qur’an tidak sepenuhnya bisa dan boleh dicek secara ilmiah sebaliknya buat saya itu terdengar seperti pernyataan seorang yang berada dalam keputusasaan yang hanya menutupi ketidak berdayaan dalam memahami al-Qur’an secara ilmiah dan lebih banyak terpengaruh dengan doktrin gereja yang berkeberatan bila alkitab dicocok-cocokkan dengan sains. Bukankah Allah berfirman :
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS AL-Mujaadilah (58) :11)
Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS AL-Baqarah (2): 269)
Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS Yunus (10) :100)
Sebagai akhir, untuk lebih memperkuat analisa saya mengenai kebenaran isi ayat al-Qur’an yang menyebutkan bahwa alkitab itu sudah terdistorsi oleh tangan-tangan jahil manusia, maka pada kesempatan ini sayapun akan memperlihatkan bukti-bukti lain mengenainya yang masih berhubungan erat dengan kasus Ismail dan Ishak ini.
Pengusiran Ismail dan Ibunya, Hajar yang dilakukan oleh Sarah sebagaimana yang dimuat didalam Kitab Kejadian terjadi pada waktu Ishak disapihkan karena ketakutan Sarah akan ikut terjatuhnya warisan ketangan Ismail yang juga merupakan putra dari Ibrahim (Lihat Kejadian 21:8-10).
Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (Kejadian 21:8-10)
Hal ini sebenarnya bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Perjanjian Lama dalam ayat lainnya yaitu kitab Kejadian pasal 21:15-17.
Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.”  (Kejadian 21:14-18)
Kenapa bertentangan ?
Jawabnya adalah, Ishak ketika disapih berusia sekitar 2 tahun, sementara Ismail 16 tahun dan saat terjadi pengusiran atas Ismail dan ibunya ini telah terjadi konflik baru dalam ayat-ayat Bible, Kejadian 21:8-10 bertentangan dengan Kejadian 21:14-21.
Dimana dalam ayat itu digambarkan seolah-olah Ismail masih berupa seorang bayi yang digendong dibahu ibunya (Kejadian 21:14), kemudian Ismail yang menurut Bible sendiri saat itu sudah berusia 16 tahun yang notabene sudah cukup dewasa kembali digambarkan bagai anak kecil yang mesti dibaringkan dibawah pokok serumpun (Kejadian 21:15) lalu diperintahkan untuk diangkat, digendong (Kejadian 21:18).
Bagaimana mungkin, Hagar yang seorang perempuan, harus menggendong seorang anak laki-laki “tua” yang berusia 16 tahun ?
Lalu disambung pada kitab Kejadian 21:20 seolah Ismail masih sangat belia sekali sehingga dikatakan “…Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah“. Jadi dari sini saja sudah kelihatan telah terjadi kerusakan dan manipulasi sejarah dan fakta yang ada pada ayat-ayat Bible.  Jika kemudian kalimat “untuk diangkat, digendong … ” yang termuat didalam Bible adalah dalam bentuk kiasan, sehingga tidak bisa diartikan secara harfiah, sehingga maksud yang ada pada ayat itu bahwa nasib hidup dan makan dari Ismail ada dipundak Hagar juga tidak bisa dibenarkan secara ilmiah.
Mari kita buktikan :
Kejadian 21:14
Maka bangunlah Ibrahim pada pagi-pagi hari, lalu diambilnya roti dan sebuah kirbat yang berisi air, diberikannya kepada Hagar, ditanggungkannya pada bahunya dan anak tersebut, lalu disuruhnya pergi. Maka berjalanlah ia lalu sesatlah ia dalam padang birsjeba[1].
Tidak lupa saya akan mengutip juga beberapa terjemahan ayat diatas didalam beberapa versi alkitab dunia :
(ASV)[2]  And Abraham rose up early in the morning, and took bread and a bottle of water, and gave it unto Hagar, putting it on her shoulder, and gave her the child, and sent her away. And she departed, and wandered in the wilderness of Beer-sheba.
(BBE)[3]  And early in the morning Abraham got up, and gave Hagar some bread and a water-skin, and put the boy on her back, and sent her away: and she went, wandering in the waste land of Beer-sheba.
(DRB)[4]  So Abraham rose up in the morning, and taking bread and a bottle of water, put it upon her shoulder, and delivered the boy, and sent her away. And she departed, and wandered in the wilderness of Bersabee.
(ITB)[5]  Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.
(KJV+)[6]  And Abraham rose up early in the morning, and took bread, and a bottle of water, and gave it unto Hagar, putting it on her shoulder, and the child, and sent her away: and she departed, and wandered in the wilderness of Beer-sheba.
(The Scriptures ’98) And Aḇraham rose early in the morning, and took bread and a skin of water, which he gave to Hagar, putting it on her shoulder, also the boy, and sent her away. And she left and wandered in the Wilderness of Be’ĕrsheḇa[7].
Jadi jelas bahwa Ibrahim mengambil roti dan sebuah kirbat yang berisi air lalu memberikannya kepada Hagar dengan meletakkan keduanya itu diatas pundak Hagar bersama Ismail yang jelas sudah lebih dulu ada dalam dukungannya lalu menyuruh Hagar pergi. Lihat kalimat dalam bahasa Inggris tidak menyebutkan Hagar dan Ismail tetapi hanya menyebutkan kata “…and sent HER away: and SHE departed, and wandered
Sementara pihak yang diusir dan berjalan serta tersesat disana adalah Hagar sendirian, sebab Ismail ada dalam gendongan Hagar, bukankah mustahil anak berusia 16 tahun digendong ?
Lalu kita lanjutkan pada kalimat berikutnya :
“Hatta, setelah habislah air yang didalam kirbat itu, maka dibaringkannyalah budak itu dibawah pokok serumpun.” (Alkitab LAI terbitan Djakarta 1963: Kitab Kejadian 21:15
(ASV)  And the water in the bottle was spent, and she cast the child under one of the shrubs.
(BBE)  And when all the water in the skin was used up, she put the child down under a tree.
(DRB)  And when the water in the bottle was spent, she cast the boy under one of the trees that were there.
(ITB)  Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,
(KJV+)  And the water was spent in the bottle, and she cast the child under one of the shrubs.
(The Scriptures ’98) And the water in the skin was used up, and she placed the boy under one of the shrubs.
Semua data-data ini membuktikan dengan akurat bahwa ketika air didalam kirbat sebagai bekal sudah habis, lalu Ismail (yang secara jelas disebut sebagai THE CHILDatau THE BOY) yang digendong itu diturunkan dari tubuhnya dan dibaringkan dibawah pohon.
Sehingga tidak bisa tidak kata “menggendong atau memikul” THE CHILD disana bukan dalam arti yang sebenarnya !
Lalu kita lihat sendiri pada ayat-ayat berikutnya dimana Hagar akhirnya mendapatkan mata air dan memberi minum kepada anaknya (THE CHILD) yang menangis kehausan lalu anak tersebut dibawah bimbingan Tuhan meranjak dewasa, jadi anak itu pada masa tersebut belumlah dewasa, padahal usianya kala itu sudah hampir 17 tahun. Bagi Ishak sendiri, beliau pun dijanjikan oleh Allah menjadi seorang Nabi yang hanif sebagaimana ayah dan juga saudara tuanya, Ismail, dimana nantinya dari Ishak ini akan terlahir Ya’qub yang kelak menjadi bapak bagi bangsa Israil.
Kepada rekan-rekan dari Kristen yang kebetulan membaca tulisan ini, saya juga ingin meminta maaf, karena dalam hal ini saya bukan hendak menggurui anda atau juga hendak mengadakan pelecehan terhadap kitab suci yang anda yakini, tetapi kita sekarang berbicara masalah kebenaran dan keobjektivitasan secara ilmiah yang bisa sama-sama kita buktikan sendiri berdasar sumber-sumber yang dapat dipertanggung jawabkan.
Sebagai penutup, saya akan mengutip empat ayat al-Qur’an dan satu ayat dari Bible.
Kebenaran itu adalah dari Tuhan-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS AL-Baqarah (2) :147)
Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka manfa’atnya bagi diri sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. (QS AL-An’am (6) :104)
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS AL-Hajj (22) :46)
Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan isi neraka itu beberapa banyak dari Jin dan manusia, yang mempunyai hati tetapi tidak untuk mengerti dengannya, mempunyai mata tidak untuk melihat dengannya dan mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengarkan; mereka itu seperti binatang, malah mereka lebih sesat. (QS AL-A’raaf (7) :179)
Sekalipun melihat, mereka tidak melihat. Sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. (Matius 13:13)
Dengan demikian semoga artikel saya ini menambah wawasan dan pencerahan.
Armansyah

[1] Alkitab LAI terbitan Djakarta 1963
[2] ASV singkatan dari American Standard Version
[3] BBE singkatan dari Bible in Basic English
[4] DRB singkatan dari Douay Rheims Bible
[5] ITB singkatan dari Indonesian Terjemahan Baru
[6] KJV+ singkatan dari King James Version with Strong’s Number
[7] Semua versi Bible atau alkitab ini diambil dari aplikasi komputer berlisensifreeware bernama e-sword dengan modul-modul sebagaimana tertera diatas yang bisa didownload secara bebas pada alamat http://www.e-sword.net

http://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/11/05/ismail-atau-ishak/




TAMBAHAN

SERING kita  mendengar dan melihat kerancuan berfikir orang-orang Nashrani tentang kisah Ibrahim alaihissalam.   Umat Kristen  --baik yang Protestan maupun Katolik dan sekte-sekte lainnya-- mengabarkan bahwa yang dikurbankan Nabi Ibrahim as adalah Ishaq, anaknya yang tunggal (Kejadian 22:1-2), bukannya Ismail, karena dia bukan anak yang sah (Kejadian 16:1-11) sebab dia berasal dari anak hamba sahaya.

Pendapat ini adalah hak mereka, (umat Kristen, red) untuk menyakini hal tersebut, dan sah-sah saja. Permasalahannya sekarang adalah, karena hal tersebut sering “didengung-dengungkan” kepada umat selain mereka, dalam hal ini yaitu kepada umat Islam, kami, sebagai seorang Muslim, perlu menjelaskan kisah penyembelihanqurban –yang sekarang menjadi tradisi umat Islam dalam merayakan Iedul Adha—ini kepada kaum Muslim sendiri.

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang Muslim untuk saling mengingatkan kepada Muslim lainnya atau kepada umat lain, bahwa banyak dari ayat-ayat al-Qur’an  diawali dengan kata “Yaa Ahlil-Kitab…” atau seruan kepada keseluruhan umat beragama (bisa Islam dan Kristen) dengan ucapan Allah,  “Yaa Ayyuhan-Nas…”. Sebagaimana firman Allah;
وَالْعَصْر إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْر,
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al ‘Asr 103:1-3)

Perlu diketahui bersama, dalam Bibel mereka sendiri, Nabi Ibrahim as dipercayai mempunyai 3 istri. Yang pertama adalah Sarah (Kejadian 16:1-4), yang kedua Hajar  (Kejadian 16:1-4) dan yang ketiga adalah Ketura (Kejadian 25:1-6). Dari ketiga istrinya tersebut, Nabi Ibrahim as kemudian mempunyai 8 putra, yakni Ismail dari Hajar (Kejadian 16 : 15-16), Ishaq dari Sarah (Kejadian 21 : 3-5), dan Ketura punya 6 anak yakni Zimron, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah (Kejadian 25 : 1-2). Bahkan didalam Kejadian 17 : 6, Tuhan akan membuat engkau (Nabi Ibrahim as) akan beranak cucu sangat banyak sekali.

Tentang permasalahan “anak tunggal”, mayoritas orang pasti sudah pada mengetahui bahwa “anak tunggal” bisa berarti anak itu tidak punya saudara-saudara lain yang se-ayah (atau dalam hal ini yaitu saudara kandung se-ibu), atau pada saat itu sang ayah baru punya anak satu saja. Hal ini tentu sangat mudah difahami bagi orang yang mau berfikir dengan logika yang sehat dan mengedepankan kebenaran, bukan pembenaran di dalam menelaah suatu permasalahan.

Untuk lebih lengkap dan jelasnya, saya akan mengutip Kejadian 21 : 5 yang isinya kurang lebih adalah bahwa pada waktu Ishaq lahir, Nabi Ibrahim as berumur 100 tahun, sedangkan pada waktu Ismail lahir, Nabi Ibrahim as berumur 86 tahun (Kejadian 16 : 16).
Dengan hal ini sudah bisa kita ketahui bahwa usia Nabi Ismail as lebih tua dari pada Nabi Ishaq as karena Nabi Ismail as lebih dulu lahir dan selisih umur mereka adalah 14 tahun. Jadi secara logis, kalau ingin disebut anak tunggal pada saat itu harusnya Nabi Ismail as, sebab beliau lebih dahulu lahir. Dan tentunya anak yang lahir dahulu (anak sulung) tersebut yang disebut anak tunggal. Hal ini karena saat itu Nabi Ismail as belum mempunyai adik atau kakak (saudara) yang lainnya.

Sedangkan permasalahan yang dikemukakan oleh orang-orang Kristen bahwa istri Nabi Ibrahim as yang sah adalah hanya-lah Sarah saja, sebetulnya sudah terjawab pada point ke II sebagaimana diatas. Bahwasanya Hajar dan Ketura-pun istri yang sah dari Nabi Ibrahim as. Bila ada orang islam yang mengaku dirinya beriman, pasti sudah 100 % yakin & percaya bahwa tidak mungkin seorang Nabi dan Rosul yang telah diutus Allah swt melakukan perbuatan keji dan tercela, yaitu “berzina”. Sebab para Nabi dan Rosul selalu terjaga dari segala dosa dan selalu dijaga oleh Allah SWT.

Selain itu, yang perlu diketahui bersama adalah pada saat itu belum ada sistem monarchi (sistem Kerajaan dengan model “Putra Mahkota) dan tak ada yang disebut sebagai “garwo padmi” atau permaisuri (istri Raja yang tidak dinikahi secara resmi).  

Dan kalau kita melihat sejarah jauh kebelakang, yang mana nenek moyang Yesus banyak juga yang “ber-poligami”. Hal ini seperti dilakukan Jacob (Kejadian 32 : 22), Daud (Maz 51 : 1-2), bahkan Salmomo atau Sulaiman yang punya 700 istri (1 Raja 11 : 3).

Namun yang  terpenting dari semua itu adalah nabi-nabi diatas merupakan keturunan Nabi Ishaq as. yang otomatis juga keturunan Nabi Ibrahim as. Fakta menunjukkan, kesemuanya itu juga merupakan istri-istri yang sah. Pertanyaannya, “mungkinkah para Nabi berselingkuh?”

Yang justru menjadi tanda tanya besar (the big questionmark) kita adalah, Kalau analisis ini benar (bahwa yang betul-betul dikurbankan adalah Ismail bukannya Ishaq sebagaimana keyakinan orang-orang Kristen, red), maka perlu kiranya kita mengoreksi kekeliruan tersebut. Dan seharusnya (itupun jika mereka mau), orang-orang Kristen sadar kembali kepada millah (agama) yang benar yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as dan kemudian beriman kepada apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad saw sang Nabi terakhir bagi seluruh umat manusia.

Sebagai Muslim, kita pun juga tau,  menurut al-Qur’an dan Bibel sendiri, bahwa Nabi Ishaq as yang menurunkan atau sebagai nenek moyang kaum Yahudi. Sedangkan Nabi Ismail as yang menurunkan atau nenek moyang bangsa Arab. Maka dengan hal ini, Muhammad bin Abdulloh bin Abdil Muththolib yang menjadi Nabi-nya umat Islam yang benar-benar menjadi pemimpin bangsa yang besar sebagaimana juga disinngung di dalam Bibel (Kejadian 21 : 18, Ulangan 18 : 18, Matius 21 : 43 & Yohanes 14 : 26, 15 : 26, 16 : 7-15).
Akan tetapi kenapa mereka (orang-orang Kristen) juga tidak mau segera sadar dari kesalahan faham mereka?
Mungkin, jawabannya, boleh jadi memang ada “agenda tersembunyi” dari para rahib-rahib mereka sebagaimana banyak disitir oleh al-Quran. Wallahu A’lam Bish-Showab…

Kesimpulan

Dari  analisis di atas, kita bisa mengambil ibroh (pelajaran), bahwasanya Bibel mereka sendiri dengan tegas dan jelas memfirmankan bahwa “anak tunggal” yang dikurbankan itu adalah anak sulung Nabi Ibrahim as yaitu Nabi Ismail as sebagaimana firman Allah swt;

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِي
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar (yang dimaksud ialah Nabi Ismail as). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur yang cukup dewasa) dan bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab : “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shaffat 37 : 100-102)

Akhirnya, semoga Allah swt memberikan hidayah kepada orang-orang yang sudah terkena “racun” salah paham dan pemikiran yang menjangkiti mereka. Dan semoga mereka bisa segera sadar dan insyaf yang akhirnya memilih Dien (agama) yang hanya diridhoi oleh Allah swt, yaitu ISLAM. Amin… 

Penulis pemerhati  masalah sosial dan keumatan asli Klaten Jawa Tengah. Saat ini aktif  di Forum Al Ishlah (sebuah forum diskusi yang dikelola oleh gabungan beberapa mahasiswa di Solo, Klaten & Jogja) dengan situsnya www.forum-alishlah.com. Email faimpu@yahoo.com


Red: Cholis Akbar


http://www.hidayatullah.com/read/19384/18/10/2011/siapa-yang-(sebenarnya)-